World Silent Day untuk Jepang
25 March 201121 Maret 2011. 38 teman-teman yang rela meluangkan waktunya untuk berhening dan merefleksikan diri menghabiskan waktu World Silent Daynya (10.00-14.00 WITA) di depan kantor Gubernur Provinsi Bali.
World Silent Day tahun ini di awali dengan meditasi The Art of Living yang dipandu oleh Bapak I Gusti Raka Panji Tisna, seorang budayawan dan metitator ulung.
Meditasi ini tidak hanya menarik orang yang berlalu lalang di jalan depan kantor Gubernur saja, tapi juga dua turis Jepang dan satu wisatawan asing lain.
Setelah bermeditasi tim kampanye World Silent Day di Bali berdoa bersama untuk para korban Tsunami dan radiasi nuklir di Jepang. Doa tersebut juga dikemas bersama tanda tangan peserta yang hadir untuk dikirim ke masyarakat Jepang melalui konsulat Jepang yang ada di Bali.
Sebagai bentuk solidaritas dan empati dari sekelompok kecil pendukung World Silent Day, mereka membuat burung Origami (seni ketrampilan kertas lipat) atau dalam bahasa jepangnya ‘Tsuru Non’ yang melambangkan kedamaian dan harapan.
Melalui Tsuru, tim World Silent Day berharap, doa-doa yang dilantunkan untuk para korban yang menderita di Jepang sampai, dan menguatkan mereka serta mengetuk hati para pemimpin dunia untuk menciptakan perubahan agar lingkungan menjadi lebih aman bagi umat manusia, serta lebih bijaksana lagi dalam memilih energi bagi ketentraman manusia dan bumi. Seribu burung yang dibuat teman-teman pendukung World Silent Day pukul 14.15 WITA dikirim langsung ke konsulat Jepang. Disana konsulat Jepang sangat menyambut ramah tim World Silent Day yang beramai-ramai berjalan kaki. Semoga pesan ini sampai dan negara Jepang akan segera pulih.








