7.025 tanda tangan dukungan WSD telah terkumpul -Laporan Aksi 13 dan 14 Maret 2010
7.025 tanda tangan telah terkumpul! Yup, saya akan cerita tentang aksi tim muda bccc mulai tanggal 13 Maret 2010…. yang sudah menyumbang banyak koleksi tanda tangan dukungan WSD. Check this one out!
Sebelum aksi dimulai di Pantai Sanur, tanggal 13 Maret 2010, kami berencana beraksi di Angkringan Sanglah, rumah makan yang banyak di tongkrongi anak-anak muda. Tetapi setelah kami rapat persiapan aksi, dan menimbang ulang tempat yang akan kami sasar, akhirnya kami putuskan beraksi di pantai sanur, dimana pada hari tersebut umat hindu di Bali melakukan “melasti”. Melasti merupakan rangkaian upaca menyambut hari raya Nyepi. Umat Hindu di Bali berduyun-duyun mendatangi laut untuk nganyudang malaning gumi ngamit tirta amertha, yaitu menghanyutkan segala kotoran dalam kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau, dan sumber lainnya sebagai simbol penyucian diri, batin, dengan memohon kepada Sang Sumber Kehidupan (berdasarkan http://regional.kompas.com/read/2010/03/14/07273363/Melasti.Awali.Ritual.Hari.Raya.Nyepi). Menimbang hal tersebut, pastinya akan banyak umat hindu yang hadir di pantai. Keesokan harinya, tim kami meluncur ke pantai Sanur dan Padang galak. Situasi tidak seperti apa yang dibayangkan. Umat hindu yang sedang melasti sedang sibuk melaksanakan persembahyangan, sangat sedikit yang bersantai. Hal tersebut sedikit menciutkan hati tim kami, dimana aksi yang lalu selalu disambut dengan baik oleh masyarakat. Tetapi kami masih mencoba berusaha memperkenalkan WSD pada beberapa orang yang terlihat tidak sibuk, dan berdasarkan pertimbangan etika dan rasa hormat, kami sungkan untuk mengganggu umat yang sedang melakukan ritual, tentu saja!.
Alhasil selama 1 jam bergeriliya, hanya 20 dukungan tanda tangan yang kami dapatkan pada hari itu. Walaupun sedikit kami harus tetap bersyukur karena kesan pada aksi ini juga mewarnai perjalanan aksi kami.
Pukul 2 siang waktu Bali, dengan sedikit rasa kantuk tetapi semangat yang masih membara, tim kami rapat untuk mempersiapkan aksi terakhir kami di bulan maret dan rely sepeda serta membersihkan sungai pada tanggal 20 Maret mendatang.
Esok harinya, pukul 06.30 pagi, beberapa anggota tim kami sudah siap dan sarapan bersama. Pukul 7.30 pagi kami langsung meluncur ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau Banjra Sandhi, Lapangan Puputan Renon, Denpasar.
Begitu sampai, orang-orang yang sedang berolah raga (karena hari itu adalah car free day) langsung memperhatikan kami. Tak disanggah, penampilan kami yang agak nyentrik memang menarik perhatian, dengan bola WSD (yang dikira ogoh-ogoh), para personil tim yang menggunakan masker dan membawa alat musik seperti cis, jimbe dan gitar serta tak lupa human icon kami dan TOA untuk berorasi melengkapi aksi kami saat itu. Semuanya kami persiapkan untuk mengingatkan masyarakat agar berpartisipasi pada WSD tanggal 21 Maret mendatang, walaupun telah melakukan Nyepi.

Penandatangan form dukungan WSD yang pertama adalah komunitas bikers yang memang sedang ‘nongkrong’ di depan monumen Bajra Sandhi. Kemudian semakin banyak orang yang datang menghampiri kami, khususnya anak-anak kecil yang mau mendengarkan cerita tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Anak-anak tersebut sangat antusias dan beberapa bisa mengerti kenapa kami mengkampanyekan WSD. Kita sadar, siapa lagi jika bukan adik-adik kecil tersebut yang nanti paling merasakan dampak perubahan iklim, semoga apa yang kami jelaskan kemarin dapat terus diingat dan di terapkan dalam kehidupan keseharian mereka.
Salah seorang pemuda lokal menghampiri saya dan mengatakan bahwa dia sendiri juga telah melihat dampak pemanasan global. Pada saat dia berlayar, dia melihat glasier yang banyak hancur setiap jamnya…
Aksi kami lanjutkan hingga jalan raya di depan monumen di buka (yang menandakan bahwa jam car free day telah usai) banyak orang yang berhenti dan membaca banner sebesar 4×4 yang kami pasang, beberapa dari mereka juga mendukung WSD dan menorehkan tanda tangan mereka di form dukungan.
Bravo! Kami mendapatkan 361 tanda tangan dukungan pada aksi kali ini! Dan ada beberapa wartawan yang meliput kami
senangnya..
Walaupun badan terasa pegal, dan kantuk, aksi kami lanjutkan ke Ubud, tepatnya di desa Pengosekan, di Green Warung, pada pukul 16.00, kami diundang untuk menghadiri Festival Lumpur, suatu acara yang berdasarkan keterangan beberapa kameramen TV adalah pertama kali di Indonesia. Kami sangat menikmati acara tersebut. Festival diawali dengan ‘metigtigan’ yaitu acara berkelahi menjatuhkan lawan di tengah kolam lumpur, tentu perkelahian tidak serius, malah mengundang tawa pemain dan penontonnya.
Pertunjukkan yang paling mengagumkan adalah tentang Dewi Sri “the Goddest of Rice” yang diperankan oleh I Wayan Sura, seorang penari kontemporer asal Bali yang sudah terkenal hingga di tingkat internasional. Atmosfir yang dalam pada pertunjukkan tersebut menghentikan aksi kami brak to brak mencari tanda tangan…. Luar Biasa! Itu yang dapat kami sampaikan, banyak filosofi yang dapat kami tarik dari pertunjukkan malam tadi.
Walaupun tidak terlalu banyak orang yang hadir pada festival tersebut (kira-kira hanya sekitar 20-40 orang ada di sana) Tetapi bukan berarti tanda tangan dukungan yang kami dapatkan sedikit. Wayan Pedas, seorang bule asal California yang bernama asli Bryne Sharf dan kekasihnya, Yuma, bersedia membantu kami menggalang tanda tangan setelah mereka sampai di California. Beberapa kameramen dan fotografer nasional dan Wayan Sura juga sangat mendukung kami.
Jam 22.00 kami pulang dengan membawa kurang lebih 40 tanda tangan dukungan (dan juga lumpur)
Setelah kami total lagi, tanda tangan yang telah kami capai adalah sebanyak 7.025, belum termasuk hasil jerih payah para sukarelawan yang ada di luar daerah dan negeri.
Senangnya hari itu, semoga semangat tim kami tetap membara dan komitmen kami semakin kuat untuk melestarikan Bumi ini. Bagaimana dengan Anda ?
By : G.A. Fransiska Kusuma Dewi



18 March 2010 at 3:44
kapan-kapan maen ke jimbaran dun. ke kampus unud, biar bisa tanda tangan juga..
hehe