Bersatu dengan Pemuda/i dari Asia Pasifik dengan beragam agama untuk Merubah iklim

english


Pemuda adalah harapan yang masih tersisa untuk menyelamatkan bumi dari dampak perubahan iklim, dengan semangat yang sedang membara  dan keberanian menghadapi tantangan, menjadikan pemuda sebagai harapan tercerah untuk melindungi bumi ini. Namun tidak cukup banyak orang di dunia ini yang menganggap pemuda dapat melakukan perubahan. Untungnya saya bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa pemuda bisa melakukan perubahan. Hingga akhirnya di Nong Jok, Thailand 28-30 September 2009 saya mewakili Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim dan Indonesia mengikuti  Asian Youth Training Workshop on Climate Change dan Interfaith Consultation on Climate Change yang diselenggarakan oleh Asian Muslim Action Network, Asian Resource Foundation dan Archbishop  of Uppsala Primate Church of Sweden. Belum menjadi suatu perubahan, tetapi sudah menjadi jalan untuk perubahan itu. 24 Pemuda dan pemudi  luar biasa dari 14 Negara (Australia, Bangladesh, Camboja, Filipina, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka dan Thailand) diasah pemahamannya tentang perubahan iklim dan  diajarkan pula teknik advokasi yang baik. Peserta yang memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda masing-masing mempresentasikan hubungan kepercayaan/agamanya dengan alam.  Terlihat dari hasil pikiran mereka bahwa walaupun masih muda, tingkat pemahaman mereka sangat menakjubkan, tak ada rasa eksklusifisme agama yang terlihat dari sikap mereka. Presentasi yang dibawakan masing-masing pemuda/i yang penuh gairah memberi inspirasi dan pengetahuan baru bagi semua peserta, dan kami menyimpulkan bahwa semua agama mengajarkan kita untuk menghormati dan mencintai bumi.

Hal kecil dalam acara ini juga mengingatkan saya, tepatnya saat mencuci piring (peserta yang sebenarnya diwajibkan untuk mencuci piringnya sendiri, beberapa hanya meletakkan piring kotornya di atas meja) bersama ketua panitia acara ini, teman saya ini mengatakan “Bagaimana kita bisa menjaga lingkungan jika belum bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri,  banyak Speaker (pembicara) tapi sedikit yang bisa menjadi Practicer (praktisi) atau keduanya”.

-Dua Pria Nepal yang membantu menjual kaos WSD-
Tak ingin hilang kesempatan, saya juga ‘berkampanye’ tentang “Hari Hening Dunia”  (World Silent Day/WSD), tak sengaja saat workshop berlangsung saya meletakkan kaos WSD di pangkuan saya, dan seketika semua orang menoleh kearah baju dan riuh menanyakan berapa harganya! Tak disangka teman-teman baru saya sangat antusias melihat baju WSD dan memberhentikan workshop sementara untuk melihat baju tersebut! Saya sangat bersyukur teman dari Nepal langsung membantu saya promosi di depan teman-teman lainnya, dan dalam workshop itu (saat membahas rencana aksi) teman lainnya menyarankan untuk memasukkan kampanye kaos seperti yang saya lakukan dalam agenda kami, WSD Berjaya!.

Saat teman-teman masih fokus terhadap kaos WSD, tak ingin hilang kesempatan saya juga menyebarluaskan tanda tangan dukungan WSD. Respon yang sangat baik saya dapatkan, banyak teman-teman yang menawarkan diri untuk membantu saya/Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim untuk menyebarkan tanda tangan dukungan WSD ke Negara mereka masing-masing .  Saat malam budaya, puisi karangan Pablo Neruda tentang hening juga saya bacakan.
Hampir di ujung acara kami berinisiatif untuk membuat jaringan baru dan membuat deklarasi untuk disebarkan saat United Nations Climate Change Talks. Jaringan ini kami namai Asia Pacific Youth’s Network on Climate Change (AYCC) (www.ayccnet.org: Website sedang ditata), dengan seorang koordinator  internasional dan sekaligus sekretariat dari/di Nepal.  Saya sendiri sebagai Koordinator untuk Indonesia. Deklarasi kami berisi pernyataan tentang keberadaan dan keperihatinan kami tentang berbagai masalah akibat perubahan iklim di Negara kami masing-masing (yang juga kami urai dalam deklarasi tersebut) dan beberapa rekomendasi yang kami tawarkan untuk pejabat PBB dan seluruh kepala Negara yang ikut dalam Climate Change Talks.
Acara berjalan dengan lancar dan penuh keceriaan seperti usia kami yang sedang memiliki semangat di atas rata-rata. Masih dengan semangat yang tinggi, seusai Workshop kami mengikuti “Interfaith Consultation on Climate Change” di Bangkok, 1-3 Oktober 2009. Sekarang giliran acara yang bercampur dengan orang dewasa ini lebih serius membahas rencana aksi dan berbagi penelitian atau program yang mereka lakukan. Saya sebagai wakil dari Indonesia sempat membacakan hasil workshop kami, dan teman-teman dari negara lainnya juga berbagi tugas untuk menyampaikan gagasan mereka lewat deklarasi yang telah kami susun di depan seluruh peserta. Tak kan pernah lupa untuk selalu meminta tanda tangan dukungan dan menjual t-shirt dari para peserta, alhasil tanda tangan yang saya raih cukup banyak. Kampanye lainnya, yaitu Solidarity 21 juga disambut baik oleh dua orang dari Negara India dan Jepang yang menyumbangkan 21 mata uangnya. Singkatnya yang dapat saya katakan, usaha kami dari Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim untuk memperlambat laju perubahan iklim lewat gerakan WSD diterima dengan lapang oleh para peserta dalam forum yang saya ikuti. Semoga langkah tersebut jauh memberi dampak yang lebih baik bagi keberlangsungan kehidupan makhluk hidup di dunia ini, bukan hanya janji dan wacana, tetapi aksi yang nyata. Mari bantu pemuda untuk melakukan mitigasi dan adaptasi yang lebih baik.
Sebelum saya lupa, hal penting yang saya dapat dari sesi teknik advokasi (oleh Suster Lydia) adalah pertanyaan,
“Siapkah kamu mati untuk apa yang kamu perjuangkan?”

By G.A. Fransiska Kusuma Dewi

Leave a Reply

SIGN UP FOR ACTION

    1. We need your support to make World Silent Day a Success and a Reality.
      Please Sign up and make comments
    2. (required)
    3. (valid email required)
    4. (required)
    5. (required)
    6. (required)
    7. (required)
    8. (required)
    9. World Silent Day will keep your info only to keep
      keep your posted about the campaign
     



  • Send your donation
    Bank Name: BRI - KC Denpasar Gatot Subroto
    Acc No: 0572-01-003435-50-0
    Account Holder: I Gusti Ayu Fransiska
    Swift Code: BRINIDJA
    Thank You!