KISAH HENING TIM KBPI

english

Allhamdulillah, Saya bisa berpartisipasi aktif dalam World Silent Day tanggal 21 Maret” ucap Hendra di dalam tulisan cerita di Blognya. Hendra adalah tulang punggung situs web  World Silent Day (WSD atau Hari Hening Sedunia). Dia yang mengelola, memasukkan berita dan mengajari kami semua mengelola situs ini. Hendra bekerja di perusahaan penyedia hosting indonesia dan pengelola situs web, dan menjadi  sukarelawan di Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim (KBPI).

Rekan wartawan, kawan-kawan dan para pendukung sering bertanya kepada tim KBPI, apa yang kami lakukan saat hari hening atau WSD, bagaimana kami merayakan WSD, dsb. Tidak mudah bagi banyak orang untuk membayangkan tidak melakukan apapun atau melakukan hal yang sama sekali berbeda dari kebiasaan, atau tidak mempergunakan alat electronik dan mobil. Hal sederhana seperti ngobrol dengan teman dan keluarga sangat dianjurkan. Berikut ini  kami, tim KBPI, berniat berbagi pengalaman selama hari hening.  Dan menurut kami  Hendra punya pengalaman terhebat diantara kami semua.

Hendra bangun pukul 8.30 pagi, mandi, minum kopi dan mulai berkomunikasi dengan Toshi, komputernya. Hendra mengaku bahwa Toshi selalu menyala 24 jam, dan WSD adalah waktu bagi Toshi untuk beristirahat, meskipun hanya 4 jam. Tim KBPI meminta Hendra untuk meng-upload informasi “We are Silent” di website WSD. Hendra juga meng-upload informasi tersebut ke empat situs lainnya: www.baliorange.net, www.baliorange.web.id, www.balioutbound.comwww.hendra.ws.

Pukul 10 pagi, ia mematikan telepon genggam, telepon kantor, Toshi, kulkas, TV, Akuarium, dan akhirnya sambungan listrik. . Bagaimana dengan pelanggan Bali Orange? Hendra telah memberikan informasi dua hari sebelumnya bahwa website akan dimatikan selama empat jam dari pukul 10 pagi sampai pukul 2 siang WITA.

Tapi,  Hendra harus menghadiri pesta pernikahan teman pada pukul 11 siang hari itu. Meski demikian ia memilih untuk naik ojek  daripada menggunakan mobil.  “Ini bukan soal pilihan antara menghadiri pesta perkawinan atau melaksanakan WSD; ini adalah tentang menjalani hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan” kata Hendra.

Ayip dan Hira harus tetap berkampanye di pagi hari tanggal 21 Maret. Ayip, desainer  hampir seluruh bahan kampanye WSD, sedang berada di Jakarta saat itu. Ia diwawancarai PRO 2 FM, Radio Republik Indonesia, sebagai bagian dari kampanye untuk menyampaikan pesan WSD kepada masyarakat.  Radio tersebut mempunyai kurang lebih 2 juta pendengar setia. Tapi ia pulang  ke rumah keluarganya di Jakarta pada pukul 10 pagi. Mereka mematikan televisi dan lampu, meskipun hanya sampai pukul 1:30 siang.

Hira, anggota tim pengarah KBPI diwawancarai Dewata TV  pada pukul 9 pagi di kediamannya di Batubulan, Gianyar Bali. Televisi lokal tersebut ingin mendokumentasikan aktivitas KBPI saat hari hening dan menyiarkanya pada pukul 10 pagi. Ia mematikan handphone dan telepon rumah, tidak menyalakan komputer. Biasanya komputer adalah benda pertama yang ia sentuh setelah sarapan. Tetapi hari itu ia memulai mengeluarkan kompos dari kotak komposnya. Hira mengolah sampah rumah tangganya menjadi kompos dan “saya telah berencana untuk mengeluarkan kompos yang telah jadi dan mengeringkannya di bawah sinar matahari sejak berhari hari yang lalu, tapi tak pernah ada waktu. Hari hening  memberi saya kesempatan untuk melakukan ini” ujar Hira. Hari itu dia juga menyelesaikan koreksi, dengan tulisan tangan, dua naskah  untuk dipublikasikan yang juga telah lama tertunda. Salah satu dari naskah  tersebut adalah buklet Perubahan Iklim dalam bahasa Indonesia.  Hal paling signifikan yang terjadi hari itu adalah angrek vandanya berbunga untuk pertama kalinya, pada tanggal 21 Maret. “sebuah berkah!!” ucapnya.

Lisa memutuskan untuk mengahabiskan masa hening dengan mempererat  persahabatannya dengan kawan lama. Selama  empat jam pada tanggal 21 Maret ia dan temanya berbincang-bincang tentang sekolah, pekerjaan, keluarga dan rencana masa depan. Menikmati hidangan pisang rebus, kue traditional Bali dan buah-buahan, dan segelas air putih, mereka ngobrol di taman rumah diantara pepohonan. Mereka telah mematikan telepon genggam, dan  tidak menyalakan komputer. Lisa, sukarelawati  KBPI berkata “ini sebuah kesempatan yang langka bagi kami berdua untuk mengobrol dan beristiraha;  kami berdua biasanya sangat sibuk bahkan untuk saling berjumpa.”

Denik, Atiek, Dek Gus dan Herni memutuskan untuk melaksanakan Hari hening jauh dari Denpasar, di Pelaga. Denik dan Atiek adalah penanggung jawab program lapangan di Yayasan Wisnu dan harus melakukan monitoring lapangan, sedangkan Dek Gus (Walhi)  dan Herni (PPLH) adalah aktivis  muda yang ingin belajar tentang pengembangan desa dan kegiatan lingkungan. Mereka meninggalkan Bali pada tanggal 20 Maret pagi menuju Karangasem dan melanjutkan perjalanan pada pagi hari tanggal 21  Maret ke Desa Pelaga. Pada pukul 09:30 Wita mereka menghentikan kendaraan, mematikan telpon genggam,  dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pertama, mereka bertemu dengan beberapa tokakat  untuk membicarakan bebeberapa kegiatan, selanjutnya mereka memutuskan untuk beristirahat selama masa hening empat dengan duduk-duduk dan mengobrol di  “bale bengong”,  bangunan  tradisional di Bali untuk beristirahat dan berkumpul (lihat gambar). Mereka mengobrol tentang banyak hal, dari percakapan omong kosong sampai pembahasan penuh makna. Mereka banyak tertawa. “Tertawa bagus untuk jiwa” kata Herni. Memang benar mereka tidak menanam pohon, atau melakukan pekerjan fisik lain, tetapi mereka memperkuat tali persahabatan. Disana juga ada seekor anjing bernama Roy yang turut menghabiskan waktu hening  bersama mereka.
Pada pukul 1 siang, hujan lebat turun. Bale Bengong itu tidak mampu melindungi mereka dari hujan, tetapi dengan sangat konsisten, mereka bertahan disana hingga pukul 2 siang. Mereka mengatakan sangat menikmati keheningan di Desa Pelaga, dengan oksigen  yang berlimpah, dan jauh dari bising polusi. Saat itu benar-benar hari hening bagi keempat teman tersebut.

Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu, sekaligus tim pengarah anggota KBPI,  menghabiskan waktunya menghayati alam. Dia menyiarkan tentang WSD  pada pukul 9 - 10 pagi melalui radio komunitas Wisnu. Kemudian pada pukul 10, radio tersebut dimatikan; dia juga mematikan seluruh aliran listrik yang ada di kantor tersebut. Suar, demikian dia akrab disapa, saat itu sedang sendirian di kantor. Dia menghabiskan waktu hening duduk dibawah pohon mangga, merenung bahwa pohon ini tidak pernah berpindah tempat.   “Saya merasa sejuk dan nyaman dibawah dedaunannya” ujarnya. Dia kemudian memandangi tanaman hias di sekitar pohon mangga dan mulai membangun komunikasi diantara mata, pikiran dan hatinya.  Dia memikirkan bagaimana pohon mangga telah memberikan sangat banyak tanpa meminta apapun.

Mungkin pohon tersebut hanya meminta untuk ditanam dan disiram air,  dan dipelihara pada awalnya. Setelahnya pohon tersebut hanya memberi dan memberi. Memberi keteduhan, bunga dan buah. Burung-burung juga dengan senang memperoleh manfaat, terlindung oleh daun-daunnya.

Hal yang paling menyenangkan adalah saat musim panas, ketika pohon tersebut berbuah. Banyak kawan turut menikmati buahnya. Para tetangga yang tergoda juga kadang mengambil buahnya, tanpa meminta ijin. “Kami sering menganggap mereka mencuri, tetapi pohon tersebut tidak akan pernah membedakan mana pemilik mana bukan, dan mungkin pohon tersebut tak pernah peduli siapa yang menikmati buahnya. Hal paling penting bagi pohon mangga tersebut seakan hanya memberi, memberi dengan hati” renung Suar.

Pohon tersebut juga tidak rakus, tidak pernah meminta ruang luas atau tempat baru. Dia terpaku  di satu tempat, dan dengan sepenuh hati berfungsi sebagai jalur komunikasi antara tanah dan air. Ahh… misteri pohon, pikir Suar.

Setelah satu jam, Suar pindah ke bawah pohon lechi.  Orang-orang mengatakan, pohon tersebut akan berbuah setelah 10 tahun.  Tetapi ini sangat mengesankan, renung Suar di tengah sawah. Kemudia ia berfikir, “Apa yang kita lakukan sebagai manusia? Kita hanya tahu makan.” Lantas dia memandang kolam, dimana ikan-ikan berenang dan lotus tumbuh subur. Bunga lotus adalah simbol Yayasan Wisnu, menggambarkan bunga mulia yang tumbuh di lumpur, air keruh, tetapi bunga itu tak tersentuh oleh air yang kotor. Kemudian dia mengamati pencerna sampah  dan berfikir bagaimana kotoran dapat berubah menajadi gas.

Selanjutnya Suar duduk di bale bengong kecil di tengah sawah,  yang merupakan bagian dari kantor Wisnu. Ada dua jenis padi di sana. Padi hitam yang benihnya berasal dari Atambua, Flores, dan padi putih biasa. Kedua jenis tersebut adalah korban ketidaktentuan iklim. Beras hitam tumbuh dengan baik, memiliki banyak tangkai bulir padi. Tetapi  curah hujan yang ekstrim, diselingi dengan cuaca yang sangat panas, telah memicu hama penggerek batang.  Sehingga tangkai padi menjadi kopong.  Beras putih juga mengalami hal yang sama. Owh.. para petani pasti menderita kerugian. “saya takut membayangkan jika panen sampai gagal beberapa kali karena kondisi cuaca yang ekstrim,  apa yang akan dilakukan  para petani kita? Apakah kita tidak akan berbuat apa-apa tentang hal ini?”  Suar memutuskan bahwa ia harus melakukan sesuatu dan renungan serta keputusan itulah makna sesungguhnya dari Hari Hening baginya.

Tepat sekali, WSD adalah kontribusi individu untuk mengurangi dampak perubahan iklim, seperti yang direnungkan  Suar. Tetapi ini tentang bumi secara keseluruhan. Tentang menjalin hubungan dengan teman dan keluarga seperti yang dilakukan Lisa dan keempat kawan. Seperti yang  disampaikan Hendra,  “Saya senang World Silent Day dan menjadi bagian darinya. Tidak sabar menunggu  WSD tahun berikutnya. Mari kita sebarkan gagasan WSD untuk keberlangsungan hidup kita di bumi. BERIKAN PADA BUMI SATU HARI UNTUK BERNAFAS !.

2 Responses to “KISAH HENING TIM KBPI”

  1. Traveler Talk Says:

    Well, congrats for you all. Great colaboration for our beloved earth. Wish all human kind do the same things as you are. Wa are here try with our best to campaign your marvelous program.

    Bravo World Silent Day ! We are with you.

  2. Tech Review Says:

    Thanks for your post about phone..I got a lot of info from this post.

Leave a Reply

SIGN UP FOR ACTION

    1. We need your support to make World Silent Day a Success and a Reality.
      Please Sign up and make comments
    2. (required)
    3. (valid email required)
    4. (required)
    5. (required)
    6. (required)
    7. (required)
    8. (required)
    9. World Silent Day will keep your info only to keep
      keep your posted about the campaign
     



  • Send your donation
    Bank Name: BRI - KC Denpasar Gatot Subroto
    Acc No: 0572-01-003435-50-0
    Account Holder: I Gusti Ayu Fransiska
    Swift Code: BRINIDJA
    Thank You!