Keheningan Nyepi Menginspirasi Dunia

Setiap komunitas memiliki kearifan lokalnya masing-masing dalam mengatasi permasalahan di lingkungannya, misalnya ‘sasih’ di Maluku, ‘rumah pangjang’ di Dayak, dan banyak lagi, Di Bali, terdapat kearifan lokal dalam merayakan pergantian tahun yang bernama ‘nyepi.Nyepi sendiri memiliki empat prinsip utama yang dikenal dengan nama “Catur Berata Penyepian” yang terdiri dari tanpa api, tanpa kerja, tanpa kesenangan, dan tanpa bepergian selama sehari penuh. Seperti kearifan lokal yang lain, Nyepi juga memiliki dampak yang baik bagi lingkungan hidup dan hubungan sosial dalam rangka membangun masyarakat yang damai dan berkelanjutan.

Pertama, Nyepi memiliki dampai positif terhadap lingkungan hidup. Selama Nyepi, setip orang Bali tinggal dalam rumah dan menurunkan konsumsinya terkait makanan, listrik, dan energi lainnya. Terdapat sekitar satu juta kendaraan bermotor di jalanan Bali dan mereka mengkonsumsi paling tidak dua liter bahan bakar setiap hari. Tak terhitung besarnya karbon dioksida yang dikeluarkan setiap harinya. Selain itu, pabrik, pelabuhan, dan bahkan bandar udara juga tak kalah besarnya mengeluarkan karbon dioksida akibat aktivitas mereka satu hari non-stop. Namun, saat Nyepi, mereka menghentikan aktivitasnya selama 24 jam, jadi, begitu besar karbon dioksida pula yang bisa dicegah untuk berkumpul di atmosfir kita. Jadi, konsentrasi karbon dioksida, penyebab perubahan iklim, dapat diatasi secara local oleh kearifan lokal ini.

Tidak hanya itu, selain mengatasi perubahan iklim, Nyepi memberikan kesempatan kepada ekosistem bumi untuk bersiliensi. Aktivitas manusia sepanjang tahun telah membebani bumi, dan berpotensi untuk merusak ekosistemnya. Di sector perikanan misalnya, lebih dari 600 ton ikan ditangkap setiap harinya di Bali (BPS, 2009). Sepanjang Nyepi, aktivitas ini dihentikan selama sehari, sebagai akibatnya, sejumlah ikan dapat bertahan hidup dan dapat berkembang biak walau cuma membutuhkan waktu sehari saja. Masyarakat Bali percaya bahwa Ibu Pertiwi membutuhkan istirahat, dan Nyepi telah memberikan ruang baginya untuk berisitirahat dan memperbaiki sistemnya dari kerusakan lebih jauh. Jadi, Ibu dapat tetap memberikan jasa layanan lingkungannya bagi seluruh kehidupan di bumi, terutama manusia, hingga di tahun berikutnya.

Lebih jauh, Nyepi menjaga hubungan social diantara masyarakat Bali. Saat ini, orang-orang kecanduan terhadap teknologi dan barang elektronik seperti telepon genggam, computer, laptop, TV, dan lain-lain. Terkadang, mereka melupakan hubungan social dan juga kondisi di sekelilingnya, dan menjadi individualistik. Selama Nyepi, orang-orang tinggal di rumah atau di komunitasnya serta mengisi waktunya untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Pada malam hari, kondisi rumah yang tanpa listrik dan gelap mampu menguatkan rasa kebersamaan diantara mereka untuk saling menjaga satu sama lain, terutama merawat mereka yang takut pada kegelapan, misalnya anak-anak. Maka, masyarakat Bali berjaga bersama melalui gelapnya malam menunggu hari baru dengan sinar mentari yang cerah dan udara yang segar di pagi esok.

Singkatnya, Nyepi dengan empat prinsip utama dari keheningan memberikan manfaat tidak saja bagi lingkungan hidup tetapi juga untuk hubungan social karena keheningannya mampu mengatasi perubahan iklim, memberikan ruang berpasa bagi bumi dan membawa orang kembali pada rasa kemanusiaannya. Oleh karena itu, Nyepi menantang orang-orang di dunia untuk membangun masyarakat yang damai dan berkelanjutan. Bali bisa, bisakah anda? (Agung Wardana)

6 Responses to “Keheningan Nyepi Menginspirasi Dunia”

  1. Sudwija Manusia Bali Says:

    kapan ya kalau seluruh dunia nyepi….????

  2. Ratasoe Says:

    Bner dalam upacar hari raya nyepi trdapat makna yg mendalam..salam sobat

  3. noorhasan Says:

    Wah…benar juga ya, sepertinya perlu dipikirkan tuh…!! walau agak sulit…di Bali bisa karena memang sudah terbiasa tapi ditempat lain kenapa tidak…

  4. Dangstars Says:

    Sulit kayanya Boz…

  5. maria Says:

    saya tinggal disekitar jalan tol didaerah tebet ,wah setiap hari polusi udara ,sampai2 aroma dedaunan, rumput tak bisa terasa seperti didesa..rambut mesti setiap hari dicuci kalau tidak kaku. saya sangat menghargai diadakanya hening ,seperti nyepi dibali , alangkah nikmatnya.mestinya jangan setahun sekali .senang berlibur didesa wisata,yang segar ,kembali ke jakarta otomatis ,pusing dan ngilu2 karena polusi yang tinggi.

  6. Padam Bukanlah Tujuan Sebenarnya | Winarto's Hermitage Abode Says:

    [...] antara Pencipta, manusia dan lingkungan. Semangat dari Nyepi itulah yang juga melandasi World Silent Day, namun sifatnya sukarela, tidak memaksa dan tidak ada sanksi. Individu dan masyarakat didorong [...]

Leave a Reply

SIGN UP FOR ACTION

    1. We need your support to make World Silent Day a Success and a Reality.
      Please Sign up and make comments
    2. (required)
    3. (valid email required)
    4. (required)
    5. (required)
    6. (required)
    7. (required)
    8. (required)
    9. World Silent Day will keep your info only to keep
      keep your posted about the campaign
     



  • Send your donation
    Bank Name: BRI - KC Denpasar Gatot Subroto
    Acc No: 0572-01-003435-50-0
    Account Holder: I Gusti Ayu Fransiska
    Swift Code: BRINIDJA
    Thank You!