Tim BCCC nyasar ke Pamanahan

Puluhan relawan WSD bergerilya menghampiri setiap undangan untuk meminta dukungan tanda tangan.

Undangan demi undangan berdatangan ke art center. Sebuah tempat yang berada di jalan Nusa Indah Denpasar Bali, tempat mementaskan berbagai macam seni budaya. Sabtu(13/2) sore sebuah pementasan budaya Sunda yang digagas oleh persatuan mahasiswa asal Pasundan (Pamanahan), mengadakan gebrakan setelah tiga tahun mengalami kekosongan di Bali. Kegiatan yang berisi musical sunda, kuliner sunda, dan berbagai macam pameran khas sunda memancing warga asal Pasundan yang tinggal di Denpasar maupun warga lokal untuk menontonnya.

Banyaknya undangan yang berdatangan, tidak mau dilewatkan begitu saja oleh puluhan anak muda relawan World Silent Day (WSD) yang dimotori oleh mbak Siska. Perempuan bermata sipit yang tengah kuliah magister di Universitas Udayana Denpasar Bali.

WSD adalah gagasan untuk megurangi tingkat konsumsi energi dan sumber daya setiap tanggal 21 Maret dengan cara kreatif. Hening selama 24 jam meungkin sulit bagi masayarakat saat ini, tetapi upaya pengurangan emisi tetap bisa dilakukan. Misalnya setiap tanggal 21 maret selama 4 jam dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 14.00 tidak menghidupkan berbagai macam alat elektronik, tidak mengendarai kendaraan bermotor,dan lain sebagainya yang dapat mengeluarkan emisi. Tetapi sebaliknya pada tanggal dan jam tersebut dihimbau agar diisi dengan kegiatan yang bisa menyelamatkan lingkungan. Misalnya menanam pohon, menggunakan produk ramah lingkungan dan menggunakan sepeda saat berpergian.

Untuk bisa dijadikan hari Internasional diperlukan tanda tangan sebanyak 10 juta pendukung WSD. Hal inilah yang menggerakan relawan anak muda untuk terus bergerilya meminta tanda tangan kepada setiap undangan yang berdatangan dengan maksud melihat pertunjukan. Aksi penggalangan tanda tangan ini dilakukan secara kreatif. Salah satu relawan mengenakan ikon WSD yaitu berupa kostum dengan wajah tersenyum disertai spanduk “Dukung WSD dengan Tanda Tanganmu”.

Memang tidak mudah menghadang setiap undangan untuk dimintai dukungannya. Ada beberapa orang yang memang tidak mau dimintai tanda tangan, adapula yang takut dan ragu. Misalnya Ani yang menemui pedagang asongan untuk dimintai dukungannya, Ia benar-benar tidak mau tanda tangan. Dia takut suatu saat akan dicari karena sudah tanda tangan. Ada pula Fransisca anak akademika yang meminta tanda tangan pada undangan namun ditolak karena alasan pekerjaan dan jabatan. Lain halnya dengan Gung Adi yang tidak diperbolehkan oleh seorang ibu meminta tanda tangan pembantunya. Namun setelah dijelaskan bahwa dukugan tanda tangan ini untuk kegiatan sosial demi lingkungan yang lebih baik, dengan segera mereka mau menorehkan tanda tangannya sebagai tanda dukungannya.

Gung Gek dan Indah siswa kelas 1 SMAN 2 Denpasar yang ingin menonton temannya menari di Pamanahan. Dengan antusias mereka memberikan dukungannya terhadap WSD setelah dihampiri salah seorang relawan WSD. Ia mengaku sangat merespon posotif program ini. Ia menyatakan bahwa bumi sudah terasa amat panas akibat perubahan iklim. Ia takut kalau ulah manusia tidak ramah lingkungan, ramalan kiamat 2012 akan terjadi. Hamparan es di Antartika akan mencair dan secara otomatis permukaan air laut akan naik. Jika sudah seperti itu, Bali sebagai pulau kecil tidak akan bisa menghindar, pasti nanti akan tenggelam. Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.

Hari sudah mulai malam, jarum jam menunjukan pukul 21.00 WITA. Rasa lapar, lelah dan ngantuk sudah terlihat pada wajah –wajah setiap relawan WSD. Akhirnya mereka pulang bersama-sama menuju secretariat Walhi Bali di Jl Kembang Matahari No 86b. Di sana mereka beristirahat sambil makan nasi jinggo yang telah dibelikan oleh koordinator lapangan yaitu Mbak Siska yang ciim.

Saat evaluasi kegiatan, mereka mencurahkan semua kesusahan-kesusahan yang telah ditemuinya. Namun tidak sia-sia hasil kerja keras mereka bergerilya di Pamanahan Art Centre. Sekitar 400 dukungan tanda tangan telah terkumpul.

Semoga dukungan tanda tangan mereka diikuti dengan perilaku mereka yang mau ramah terhadap lingkungannya. Mengubah kebiasaan untuk menghadapi perubahan iklim. Mulailah dari keluarga, sekolah dan tempat kerja.

For Green & Peace…

BY : Maryo (Relawan BCCC)

Leave a Reply

SIGN UP FOR ACTION

    1. We need your support to make World Silent Day a Success and a Reality.
      Please Sign up and make comments
    2. (required)
    3. (valid email required)
    4. (required)
    5. (required)
    6. (required)
    7. (required)
    8. (required)
    9. World Silent Day will keep your info only to keep
      keep your posted about the campaign